Showing posts with label Qudwah. Show all posts
Showing posts with label Qudwah. Show all posts

Wednesday, October 19, 2011

FATIMAH AZ-ZAHRA AS, PENGHULU WANITA SEMESTA

Bismillahirrahmanirrahim

Mukadimah

Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.

Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.

Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”

Di lain kesempatan, beliau bersabda, “Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua.” (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).

Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.

Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.

Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.

Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.

Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.

Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.

Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.

Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.

Putri tersayang Nabi Muhammad saw.

Istri tercinta Imam Ali as.

Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.

Hari Lahir

Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj beliau.

Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.

Fatimah di Rumah Wahyu

Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.

Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.

Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”

Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.

Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.

Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.

Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.

Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.

Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.

Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Pernikahan Fatimah as

Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”

Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?”

Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”

Acara Pernikahan

Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”

Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”

Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”

Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.

Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.

Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.

Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.

Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.

Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.

Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.

Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.

Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur’an.

Keluarga Teladan

Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.

Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.

Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.

Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. “Ya binta Rasulillah”; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.

Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.

Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.

Buah Hati

Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.

Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.

Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”

Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.

Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.

Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.

Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.

Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.

Kepergian Sang Ayah

Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.

Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk.

Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.

Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.

Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.

Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.

Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.

Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.

Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.

Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”

Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.

Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.

Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.

Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.

Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.

Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah … dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.

“Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku … Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”[]

Riwayat Singkat Sayidah Fatimah as

Nama : Fatimah.

Julukan : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.

Ayah : Mahammad.

Ibu : Khadijah binti Khuwailid.

Kelahiran : Jumat 20 Jummadil Akhir.

Tempat : Makkah Al-Mukarramah.

Wafat : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.

Makam : Tidak diketahui.


Wednesday, September 21, 2011

BALASUNGKAWA - Profesor Dr Khalijah Salleh, Serikandi Muslimah Mithali Kontemporari

Pada jam 10 pagi Sabtu 17 September 2011 bersamaan 19 Syawal 1432, gugurlah serikandi yang amat dikasihi, Profesor Dr Khalijah Salleh, bekas pensyarah Jabatan Fizik, UKM dan paling utama mantan Ketua Helwa ABIM, kalau tidak silap Ketua Helwa yang pertama, yang juga di antara pengasas ABIMHELWA. Pemergian Allahyarhamah K Jah (nama gelaran beliau di kalangan Helwa ABIM) memang diratapi oleh seluruh warga ABIM, baik wanita mahupun lelaki.

Sepanjang hari-hari terakhir beliau yang dirawat di HUKM, pelawat tidak putus-putus mengunjungi beliau. Ketabahan beliau menghadapi saat terakhir itu sukar dilupakan. K Jah seperti biasa amat bersemangat dan mentally alert. Dia kenal dan tahu siapa pelawatnya dan dalam keadaan yang sakit, masih ingin berbicara dengan senyuman manisnya yang menjadi trademarknya. Melihat beliau ketika itu sukar untuk percaya beliau sedang menanti saat-saat terakhir.

Saya mengenali K Jah kali pertama di Kolej Tunku Kurshiah Seremban. Beliau datang ke Kolej untuk memberi ceramah motivasi atas undangan Murid Tua (inilah istilah lama untuk alumni). Beliau diperkenalkan sebagai wanita Melayu pertama meraih ijazah sarjana muda bidang fizik. Memang K Jah seorang yang boleh menaikkan semangat pendengarnya. Sejak itu jiwa saya turut berkobar-kobar mahu meneladaninya. Menjadi perintis Melayu dalam apa jua bidang yang mungkin semata-mata ingin membuktikan orang Melayu juga mampu. Dan akhirnya saya ke Amerika Syarikat untuk mendalami bidang matematik yang ketika itu memang kurang diceburi oleh anak Melayu malahan dicemuh bahawa bangsa Melayu lemah matematik dan sains. Begitulah kesan K Jah pada diri saya ketika itu yang masih di bangku sekolah menengah. Saya pernah bertemu K Jah di University of California Davis ketika beliau meneruskan pengajiannya di peringkat tertinggi. Dan ditakdirkan Allah, kami bertemu lagi dalam jemaah yang kita kasihi iaitu ABIM - saya masih bertatih mengikut jejak langkahnya.


Alhamdulillah, kami terus bersama dan jurang adik dan kakak semakin tipis - sama-sama selaku ahli profesional Muslim yang ingin memajukan umat Islam menerusi da'wah dan juga bidang keilmuan. K Jah seorang pejuang profesional yang amat passionate dalam apa sahaja yang beliau lakukan. Beliau amat passionate dengan ABIM, ilmu dan pendidikan. Beliau tidak akan menolak sebarang undangan Helwa mahu pun Biro Pendidikan ABIM dalam aspek pengongsian ilmu khususnya cinta pertamanya - sains Islam. Di akhir fasa perjuangannya, Allahyarhamah amat prihatin tentang keperluan memasyarakatkan sains di kalangan orang Melayu dan pentingnya hubungan sains dan aqidah. Sains sebagai ayat-ayat Allah swt. Walaupun sudah didiagnos dengan kanser, selagi beliau boleh berdiri, bercakap dan kuat, beliau masih meneruskan perjuangannya - hatta ke Indonesia - berbicara tentang sains Islam sebagai memenuhi undangan IIIT Indonesia. Beliau masih menghadiri majlis Helwa di awal tahun 2011 walaupun kekuatannya sudah mula merosot.

Usaha K Jah bukan sahaja untuk ABIM malahan semua organisasi Islam seperti Yadim dan IKIM. Kegigihannya dalam bidang sains terbukti bila K Jah dilantik sebagai felo oleh Akademi Sains Malaysia. Beliau tidak lupa mengundang saya pada hari bersejarah perlantikannya itu yang beliau gunakan untuk membentangkan mesej cinta pertamanya.

K Jah memang seorang serikandi dan wanita mithali. Selain daripada kerjayanya, da'wah dan aktiviti sosialnya, K Jah juga merupakan isteri dan ibu yang berjaya.


Pada malam jumaat yang lepas iaitu jam 3.19 pagi, kita dikejutkan oleh sms daripada K Jah. Pesannya ringkas sekali:

Tk dear all. Help baca Yassin now. I may be leaving now. Salam maaf zahir n batin.

Benar-benar sms - ringkas dan padat. K Jah seolah-olah sudah tahu bila beliau akan pergi. Ini mengingatkan kita cara Imam al-Ghazzali sudah maklum beliau akan meninggalkan dunia yang fana ini dan memakai kain kafannya. Masha'Allah. Kata-kata K Jah memang benar - beliau berangkat meninggalkan kita terutama ahli keluarganya yang dikasihi pada hari Sabtu. Sejak menziarahi K Jah di HUKM saya bacakan surah Yassin beberapa kali diiringi doa: Ya Allah, jika takdirnya sembuh, sembuhkkanlah K Jah dan jika takdirnya pergi menghadapiMu, mudahkanlah pemergiannya. Allah lebih menyayanginya dan mengetahui rahsia-rahsia kita.

Kini saya cuma dapat menenangkan diri dan perasaan bahawa K Jah pergi dalam keadaan husnul khatimah dan kejayaan muflihun. Innalillahi wa inna ilayhi rajiun. Semuga Allah mengampunkan Allahyarhamah K Jah dan menghimpunkan ruhnya bersama golongan abrar.K Jah sudah pergi namun kita mestilah teruskan usahanya dalam bidang keilmuan dan pendidikan untuk memantapkan sains Islam dan aqidah umat. Inilah sekurang-kurangnya kita dapat lakukan sebagai mengenang jasanya yang tidak ternilai.wabillahi tawfiq walhidayat.


Allahu 'alam.Al-fatihah.


NukilanRosnani Hashim
Mantan Ketua Helwa ABIMProfesor,
Institut Pendidikan UIAM.10.30 malam.17 september 2011

Wednesday, January 12, 2011

Puisi Buat Adinda


Bismillahirrahmanirrahim.


Puisi Buat Adinda

Antara dedaun yang rontok ke bumi,
meninggalkan pautan kesekian kali,
Sehelai terbang mencari identiti,
Di kalangan pepohon yang mekar,
Di kalangan rumput yang menjalar,
Ditiup bayu, dihembus udara syahdu,
Ke pangkuan bumi yang sentiasa menunggu,

Adindaku,
Engkaulah dedaun itu,
Suci dan murni, kuning dan bening,
Tetapi di pohon-pohon yang engkau terbangi,
Dan di rumput-rumput yang engkau jejaki,
Di situ, amat banyak onak dan duri,
Di situ, penuh ular dan semut api,
Dan bayu pun selalu mengganas,
Merabakkan sesayapmu, menghempaskan jasad dan nuranimu,
Jatuhlah engkau ke dada bumi yang tidak sudi,

Adindaku,
Terbanglah walau ke pohon yang terbelit onak dan duri,
Kendati ke rumput yang tersembunyi ular dan semut api,
Terbanglah,
Kerana maruah dan harga diri,
Kerana kesuciaan dan ketakwaan hati,
Akan menghantarmu ke mana-mana yang engkau ingini



Dipetik daripada koleksi himpunan Ucapan Dasar ABIM
Ustaz Ahmad Azam Abdul Rahman

Wednesday, December 29, 2010

7 Wonderful Qualities of a Leader


Oxford Advanced Learner's Dictionary, New 8th edition (2010), defines leader as a person who leads a group of people, especially the head of a country, an organization, etc.

To be a wonderful leader, one should possess combinations of some of the following qualities:

1) Leaders Have Good Communication Skills

Leaders are good communicators. They leave no doubt about the meaning of their message. That's what Stan Toler (2002) wrote in his book "Minute Motivators for Leaders". He added that communication process is not complete until the audience has both listened and understood the delivered message.

Bob Adams (2001) in his book "The Everything Leadership Book" said that effective communication skills are integral to any working partnership / team or personal relationship. Therefore, according to him, it is safe to say that good communication skills are one of the building blocks of being an effective leader.

2) Leaders Are People with Courage

Courage is largely habit and self-confidence. It is a valuable commodity on the battlefield or in the board room. Alan Axelrod (1999) mentioned this in his book "Patton on Leadership". According to him, General George S. Patton, Jr., one of the most decorated American heroes during World War II, believed that courage could be learned – acquired through practice.

According to Marshall Loeb and Stephen Kindel (1999) in their book "Leadership for Dummies", leaders learn how to suck up their courage, trust their instincts, and move ahead into the unknown, even when they're just as scared as their followers.

3) Leaders Pay Attention to Details

During World War II, in commanding the U.S. Third Army, General Patton understood that wet socks lead to trenchfoot and other conditions that keep a man from marching, wrote Axelrod (1999). Socks are a small and lowly item, but Patton realized that on dry socks (and healthy feet), the efficiency of his army depended.

On the other hand, lack of attention to details can result in tragedy. According to Seth Godin (1995) in his book "Wisdom, Inc.", the space shuttle Challenger exploded because a fifteen-cent rubber part did not function in unusually cold weather. Several brilliant scientists (and astronauts) were killed because this one tiny detail was overlooked.

Napoleon Hill (1937) in his book "Think and Grow Rich" mentioned about the mastery of detail, which was one of the 11 important factors of leadership. According to him, successful leadership calls for mastery of the details of the leader's position.

4) Leaders are Problem Solvers

"You can measure a leader by the problems he tackles. He always looks for ones his own size", wrote by John C. Maxwell (1999) in his book "The 21 Indispensable Qualities of a Leader".

Every workplace will have some conflict, no matter how great the leadership team may be. Leaders need to identify conflict as early as possible and determine what kind of conflict is involved and its underlying causes. These remarks were written by Bob Adams (2001) in his book "The Everything Leadership Book".

5) Leaders Build Relationships

Building relationships based on trust was one of the topics covered by Ian Lawson (2001) in his book "Leadership". According to him, there are seven key behaviours / attributes in this area:

a) Not putting self-interest before the interests of your staff,
b) Keeping promises and doing what you say you will do,
c) Being in touch with and sensitive to other people's feelings,
d) Being calm in a crisis and when under pressure,
e) Being honest and truthful,
f) Not taking personal credit for other people's work, and
g) Always being fair.

6) The Leader as Team-Builder

Ismail Noor (2002) wrote his book "Prophet Muhammad's Leadership" that the Prophet Muhammad s.a.w. is acknowledged as an exemplary team leader who knew how to get the best out of his principal lieutenants by understanding the true value of the human resource factor.

According to him, effective team-working stems from people complementing, rather than, rivalling, each other or merely co-existing alongside one another.

The leading members of the Majlis Syura or the Consultative Council during the time of the Prophet's governance were Abu Bakar As-Siddiq, Umar Al-Khattab, Uthman Al-Affan, Ali bin Abi Talib, Zaid bin Thabit Al-Ansari, Abd. Rahman bin 'Auf, Salmaan Al-Farsi, and 'Ubayy bin Ka'b.

7) The Leader as Visionary

In her book "Leadership Skills for Managers", Marlene Caroselli (2001) stated that for leaders to effect positive change, they must have a picture of what the improvement will look like. That improvement, on a small or grand scale, is called a vision.

According to Ros Jay (2004), vision is the ability to develop the future strategy of the business. In her book "The Successful Candidate", she wrote: "vision implies that not only can you see ahead and respond well in advance, but that you can also be pro-active, setting the trend yourself and setting how the business will look in several years' time.

"Wonderful leaders are comparable to eagles. They fly higher but not in flocks, like most birds".

- Artikel iluvislam.com

Wednesday, December 22, 2010

Aduhai Wanita..



Bismillah.

Aduhai wanita secantik permata.
Jagailah dirimu dan hatimu sebaiknya.

Diri itu, Tuhan ciptakan cukup sempurna.
Kurang lebih, hanya syukur yang selayaknya.
Riya', ujub dan takbur,
Jauhkanlah dari jiwa,
Agar hidupnya nanti tenang tak terleka..

Hati itu, amanah dari-Nya.
Serahkanlah seluruhnya pada-Nya.
Jangan dikhianati pemiliknya.
Zikir, tahmid dan takbir sebahagian keperluannya.
Merendah, syukur dan sabar harus jadi makanannya juga.

Duhai wanita,
Cantikmu tidaklah sebenar pada rupa,
Yang menutup tengkorak-tengkorak yang ditakuti manusia.
Sesungguhnya Tuhan tidak melihat itu semua.
Kerna sesungguhnya DIA mahu kita menjagai iman semata.
Buat bekalan dunia,
Dan kehidupan abadi akhirat sana..
Ahhahurabbi.


>> Jadilah wanita yang akhirat-centric..
Hidup untuk akhirat.. InsyaAllah..




Monday, December 20, 2010

Antara Sabar dan Mengeluh.


Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.

"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."

Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."
Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"

Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"

Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."

Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:

" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."

Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)

Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.



Koleksi Kisah-Kisah Teladan Menarik: http://sangpanglipu lara.blogspot. com/

Monday, December 13, 2010

HIJAB AND ADVENTURE: Khaulah srikandi kental.


Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah pada 4 Disember 2010M bersamaan 27 Zulhijjah 1431H saya dan beberapa rakan HEWI PKPIM (Sumayyah, Hasliza, Izzah dan Akmariah) berkesempatan menyertai program Hijab and Adventure anjuran HELWA ABIM dengan kerjasama HELWA ABIM Selangor. Peserta program ini hampir 30 orang yang terdiri daripada sahabat-sahabat HELWA ABIM Negeri Sembilan, Perak, Selangor dan HEWI PKPIM UIA, UM dan lain-lain.

Objektif utama program ini ialah mengeratkan silaturrahim dan ukhuwah antara para peserta di samping menghidupkan aktiviti sunnah Rasulullah s.a.w. Program ini juga diharap dapat menyediakan kemahiran asas dan latihan ketahanan fizikal bagi seorang da'ie, serta dapat melebarkan method dakwah Islamiyyah bukan sahaja kepada petugas dakwah tetapi juga kepada masyarakat.

Program bermula seawal 8 pagi dengan pendaftaran peserta, sarapan pagi dan pengisian dari Ketua HELWA ABIM Pusat, Puan Fadhlina Sidek. Beliau telah berkongsi semangat Srikandi Khaulah yang merupakan antara penunggang kuda terbaik di zaman Rasulullah s.a.w. Selain itu, kami juga dapat mengenali fitrah haiwan-kuda secara lebih dekat dan menyelami kehidupan dan peribadi kuda yang sangat unik. Subhanallah indah sungguh ciptaan-Nya.

Citra perjuangan seorang muslimah..

Khaulah Al-Azwar merupakan seorang wanita yang hidup di zaman Sahabat RA. Khaulah memiliki kekuatan jiwa dan fizikal yang kuat. Susuk tubuhnya tinggi lampai dan tegap. Sejak kecil beliau sudah pandai bermain pedang dan tombak. Rasulullah s.a.w. telah membenarkan Khaulah menyertai angkatan peperangan muslimin bersama-sama mujahidah yang lain.

Beliau adik kepada Zirar Al-Azwar yang kehandalannya di medan perang sememangnya diakui. Kemahiran dan teknik bertempur ini turut diwariskan kepada Khaulah oleh ayahnya Al-Azwar. Khaulah lantas menjadi seorang wanita yang mahir berpedang dan berkuda.

Dalam perang Yarmuk, beliau menjadi salah seorang yang menonjol atau memimpin kaum wanita yang menyertai perang tersebut. Bahkan, beliau turut mengalami kecederaan di kepala dalam peperangan yang sangat bersejarah itu.

Namun, kisah kehandalannya bertempur yang paling masyhur adalah dalam satu operasi tentera Muslimin untuk menyelamatkan saudaranya Zirar yang telah ditawan tentera Rom sewaktu satu penggempuran di sekitar Damascus. Khaulah telah turut serta dalam operasi tersebut. Dengan berpakaian hitam, serban hijau dan menggunakan skarfnya sebagai topeng, beliau yang menyertai pasukan Khalid bin Al-Walid meluncur laju ke arah musuh, bertempur dengan handal dan cermat; membantu tentera Muslimin yang ketika itu sudah keletihan berlawan. Raafe bin Umaira, panglima skuad sebelum ketibaan Khalid mengungkapkan ketakjubannya, “Beliau berlawan seperti Khalid, namun jelas beliau bukan Khalid”.

Khaulah mempamerkan kehandalannya berkuda dan bertempur dengan tombak. Beliau meluncur laju ke arah barisan Rom, membunuh seorang dengan tombaknya, lalu meluncur ke arah barisan Rom di bahagian lain dan mencederakan atau membunuh tentera Rom yang lain. Pertempurannya secara solo itu ibarat menjadi satu pertunjukan kepada tentera Muslimin yang lain di samping membangkitkan semangat mereka untuk terus berjuang. Beliau akhirnya mendedahkan identitinya yang pasti mengejutkan sesiapa yang mengetahui (dicatatkan Khalid hampir-hampir terjatuh dari kudanya). Akhirnya, tentera Muslimin, bersama Khaulah berjaya membebaskan panglima Zirar dalam satu operasi serangan berikutnya di Beit Lahiya, Gaza, Palestin.

Sewaktu menyertai perang Sahura, Khaulah dan beberapa orang wanita telah ditawan oleh musuh. Mereka telah dikurung dan dikawal rapi beberapa hari lamanya tanpa senjata untuk melepaskan diri. Khaulah membakar semangat sahabat-sahabatnya setelah mendapati tiada cara lain yang lebih berkesan melainkan melawan tentera Rom yang menawan mereka walaupun mereka tidak mempunyai senjata.

Tekad para tawanan ini sudah bulat. Setelah menetapkan harinya maka mereka pun melaksanakan keputusan yang dibuat. Sebelum itu mereka berdoa sungguh-sungguh pada Allah dan bertaubat dengan segala dosa yang lalu. Menangis dan merayu memohon campakkan dalam hati mereka kekuatan jiwa yang kuat dan semoga Allah memudahkan pekerjaan dan berharap semoga datanglah bantuan-bantuan ghaib untuk menolong mereka. Khaulah telah memimpin segala urusan dalam pekerjaan berat itu, dia menyandang tiang kayu siap untuk berjuang. Sebelum itu dia memberi taklimat kepada anak-anak buahnya:

“Wahai saudari, jangan sekali-kali gentar dan takut. Kita semua harus bersatu dalam perjuangan ini dan jangan ada yang terkecuali, patahkan tombak mereka, hancurkan pedang mereka, perbanyakkan bacaan takbir dan yang penting ialah saudari mesti kuatkan hati saudari semua. Insya Allah pertolongan Allah sudah dekat”.

Begitulah keyakinan Khaulah, berkat keberaniannya mereka semua terselamat dari segala bentuk bencana itu. Orang-orang Rom ketakutan kerana serangan yang datang secara tiba-tiba. Khaulah berjaya merampas sebuah tombak lalu digunakan untuk bertempur sedangkan tiang di tangan kanannya digunakan sebagai melindungi dirinya dari tusukan tombak dan tebasan pedang. Akhirnya Khaulah dan semua wanita berjaya mencerai beraikan pasukan Rom dapat melepaskan diri dan kembali ke pasukan Islam dengan selamatnya.

Begitulah kisah seorang pahlawan muslimat yang hebat. Kehebatannya tiada tandingan dan seharusnya HEWI-HEWI PKPIM mengambil iktibar dari semangat dan kekentalan jiwa Khaulah. Kekentalan hati, ketangkasan pergerakan dan kekuatan jiwa Khaulah seharusnya menjadi esensi utama yang diambil dari Khaulah untuk bekalan perjuangan HEWI PKPIM. Tinggalkan masalah hati dan gangguan-gangguan jiwa yang meresahkan perasaan.

Menyanjung citra Khaulah Al-Azwar..


HIDUP BIAR BERJASA!


Oleh:

Fatin Nur Majdina Nordin
Naib Presiden HEWI PKPIm
Sesi 2010/2011

Friday, December 10, 2010

Aurat dan Dakwah



Di sini Darul Nu'man ingin menyentuh tentang pemakaian tudung kaum wanita masa kini sebagai renungan bagi wanita Islam. Bila wanita menjaga auratnya dari pandangan lelaki bukan muhram, bukan sahaja dia menjaga maruah dirinya, malah maruah wanita mukmin keseluruhannya. Harga diri wanita terlalu mahal. Ini kerana syariat telah menetapkan supaya wanita berpakaian longgar dengan warna yang tidak menarik serta menutup seluruh badannya dari kepala hingga ke kaki.

Kalau dibuat perbandingan dari segi harta dunia seperti intan dan berlian, ianya dibungkus dengan rapi dan disimpan pula di dalam peti besi yang berkunci. Begitu juga diumpamakan dengan wanita, Kerana wanita yang bermaruah tidak akan mempamerkan tubuh badan di khalayak umum. Mereka masih boleh tampil di hadapan masyarakat bersesuaian dengan garisan syarak. Wanita tidak sepatutnya mengorbankan maruah dan dirinya semata-mata untuk mengejar pangkat, darjat, nama, harta dan kemewahan dunia.

Menyentuh berkenaan pakaian wanita, alhamdulillah sekarang telah ramai wanita yang menjaga auratnya, sekurang-kurangnya dengan memakai tudung. Dapat kita saksikan di sana sini wanita mula memakai tudung. Pemakaian tudung penutup aurat sudah melanda dari peringkat bawahan hingga kepada peringkat atasan. Samada dari golongan pelajar-pelajar sekolah hinggalah kepada pekerja-pekerja pejabat-pejabat.

Walaupun pelbagai gaya tudung diperaga dan dipakai, namun pemakaiannya masih tidak lengkap dan sempurna. Masih lagi menampakkan batang leher, dada dan sebagainya. Ada yang memakai tudung, tetapi pada masa yang sama memakai kain belah bawah atau berseluar ketat dan sebagainya. Pelbagai warna dan pelbagai fesyen tudung turut direka untuk wanita-wanita Islam kini.

Ada rekaan tudung yang dipakai dengan songkok di dalamnya, dihias pula dengan kerongsang (broach) yang menarik. Labuci warna-warni dijahit pula di atasnya. Dan berbagai-bagai gaya lagi yang dipaparkan dalam majalah dan suratkhabar fesyen untuk tudung. Rekaan itu kesemuanya bukan bertujuan untuk mengelakkan fitnah, sebaliknya menambahkan fitnah ke atas wanita.

Walhal sepatutnya pakaian bagi seorang wanita mukmin itu adalah bukan sahaja menutup auratnya, malah sekaligus menutup maruahnya sebagai seorang wanita. Iaitu pakaian dan tudung yang tidak menampakkan bentuk tubuh badan wanita, dan tidak berhias-hias yang mana akan menjadikan daya tarikan kepada lelaki bukan muhramnya. Sekaligus pakaian boleh melindungi wanita dari menjadi bahan gangguan lelaki yang tidak bertanggungjawab.

Bilamana wanita bertudung tetapi masih berhias-hias, maka terjadilah pakaian wanita Islam sekarang walaupun bertudung, tetapi semakin membesarkan riak dan bangga dalam diri. Sombong makin bertambah. Jalan mendabik dada. Terasa tudung kitalah yang paling cantik, up-to-date, sofistikated, bergaya, ada kelas dan sebagainya. Bertudung, tapi masih ingin bergaya.
Kesimpulannya, tudung yang kita pakai tidak membuahkan rasa kehambaan. Kita tidak merasakan diri ini hina, banyak berdosa dengan Tuhan mahupun dengan manusia. Kita tidak terasa bahawa menegakkan syariat dengan bertudung ini hanya satu amalan yang kecil yang mampu kita laksanakan. Kenapa hati mesti berbunga dan berbangga bila boleh memakai tudung?

Ada orang bertudung tetapi lalai atau tidak bersembahyang. Ada orang yang bertudung tapi masih lagi berkepit dan keluar dengan teman lelaki . Ada orang bertudung yang masih terlibat dengan pergaulan bebas. Ada orang bertudung yang masih menyentuh tangan-tangan lelaki yang bukan muhramnya. Dan bermacam-macam lagi maksiat yang dibuat oleh orang-orang bertudung termasuk kes-kes besar seperti zina, khalwat dan sebagainya.

Jadi, nilai tudung sudah dicemari oleh orang-orang yang sebegini. Orang Islam lain yang ingin ikut jejak orang-orang bertudung pun tersekat melihat sikap orang-orang yang mencemari hukum Islam. Mereka rasakan bertudung atau menutup aurat sama sahaja dengan tidak bertudung. Lebih baik tidak bertudung. Mereka rasa lebih bebas lagi.

Orang-orang bukan Islam pula tawar hati untuk masuk Islam kerana sikap umat Islam yang tidak menjaga kemuliaan hukum-hakam Islam. Walaupun bertudung, perangai mereka sama sahaja dengan orang-orang bukan Islam. mereka tidak nampak perbezaan agama Islam dengan agama mereka.

Lihatlah betapa besarnya peranan tudung untuk dakwah orang lain. Selama ini kita tidak sedar diri kitalah agen bagi Islam. Kita sebenarnya pendakwah Islam. Dakwah kita bukan seperti pendakwah lain tapi hanya melalui pakaian.

Kalau kita menutup aurat, tetapi tidak terus memperbaiki diri zahir dan batin dari masa ke semasa, kitalah punca gagalnya mesej Islam untuk disampaikan. Jangan lihat orang lain. Islam itu bermula dari diri kita sendiri.

Ini tidak bermakna kalau akhlak belum boleh jadi baik tidak boleh pakai tudung. Aurat, wajib ditutup tapi dalam masa yang sama, perbaikilah kesilapan diri dari masa ke semasa. Tudung di luar tudung di dalam (hati). Buang perangai suka mengumpat, berdengki, berbangga, ego, riak dan lain-lain penyakit hati.

Walau apapun, kewajipan bertudung tidak terlepas dari tanggungjawab setiap wanita Muslim. Samada baik atau tidak akhlak mereka, itu adalah antara mereka dengan Allah. Amat tidak wajar jika kita mengatakan si polanah itu walaupun bertudung, namun tetap berbuat kemungkaran. Berbuat kemungkaran adalah satu dosa, manakala tidak menutup aurat dengan menutup aurat adalah satu dosa lain.

Kalau sudah mula menutup aurat, elak-elaklah diri dari suka bertengkar. Hiasi diri dengan sifat tolak ansur. Sentiasa bermanis muka. Elakkan pergaulan bebas lelaki perempuan. Jangan lagi berjalan ke hulu ke hilir dengan teman lelaki. Serahkan pada Allah tentang jodoh. Memang Allah sudah tetapkan jodoh masing-masing. Yakinlah pada ketentuan qada' dan qadar dari Allah.

Apabila sudah menutup aurat, cuba kita tingkatkan amalan lain. Cuba jangan tinggal sembahyang lagi terutama dalam waktu bekerja. Cuba didik diri menjadi orang yang lemah-lembut. Buang sifat kasar dan sifat suka bercakap dengan suara meninggi. Buang sikap suka mengumpat, suka mengeji dan mengata hal orang lain. jaga tertib sebagai seorang wanita. Jaga diri dan maruah sebagai wanita Islam. Barulah nampak Islam itu indah dan cantik kerana indah dan cantiknya akhlak yang menghiasi peribadi wanita muslimah.

Barulah orang terpikat untuk mengamalkan Islam. Dengan ini, orang bukan Islam akan mula hormat dan mengakui "Islam is really beautiful." Semuanya bila individu Islam itu sudah cantik peribadinya. Oleh itu wahai wanita-wanita Islam sekalian, anda mesti mengorak langkah sekarang sebagai agen pengembang agama melalui pakaian.

P/s : Artikel dari Darul Nu'man...

Thursday, December 09, 2010

Catatan Kembara..


"Kembara diri dan jiwa. InsyaAllah."
Bismillah.

Ini pengalaman saya selaku exco PKPIM menyertai Ekspedisi Menjejak Wali Songo anjuran Grup Penjejak Tamadun Dunia (GPTD) UNISEL yang bukan sekadar berobjektifkan jalan-jalan ke Makam Wali Allah itu. Namun ia merupakan kembara panjang (2 minggu) dalam menjalani tarbiyyah Allah dimuka bumi-Nya. Di tempat asing dan di temani sahabat seperjuangan seramai tujuh orang, malah tiga daripadanya adalah muslimah, menjadikan kami cepat akrab sebagai satu pasukan.

Awal ketibaan kami di Tanah Jawa, Sang Merapi menyambut mesra dengan butir-butir debu melaju menyimbah udara sekitarnya. Alhamdulillah, sepanjang empat hari di Yogjakarta, tiada apa-apa yang buruk menimpa kami. Syukur panjang kami panjatkan kepada Ilahi. Moga itu adalah tanda redha-Nya pada kembara kami ini. InsyaAllah.

Persahabatan yang terjalin bersama mahasiswa-mahasiswa Indonesia membuahkan pelbagai hikmah. Kami masih sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabat dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang banyak membantu kembara kami di Yogjakarta, Semarang dan Surabaya. Hingga soal penginapan, makan dan minum juga banyak yang terbantu. Malah kepada sahabat dari Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indeonesia (KAMMI) yang sangat mesra menerima kunjungan dan ziarah kami. Sejujurnya ziarah ini bukan sekadar memaut ukhuwwah, malah menguatkan idealisma perjuangan mahasiswa yang kebanyakan diskusi antara kami banyak membicarakan soal mewujudkan masyarakat yang lebih baik, dakwah Islam itu sendiri dan soal meningkatkan kesedaran pemuda Islam mengenai kepentingan menyumbang kepada masyarakat. Malah perkongsian kami bukan sekadar itu, tetapi meliputi hubungan dakwah Malaysia-Indonesia dan harapan-harapan agar syiar Islam akan terus menyinar di bumi Allah ini.

Saya juga telah dijemput untuk diwawancara oleh Radio Suara Muslim Surabaya, salah satu saluran radio terbesar di Surabaya untuk berkongsi pengalaman kembara dan memperkenalkan PKPIM sebagai salah satu NGO dakwah di Malaysia. Kami juga berkesempatan membuat pertemuan bersama editorial Majalah Suara Hidayatullah, Kepimpinan Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan Ikatan Mahasiswa Hidayatullah yang kesemua mereka merupakan bekas pelajar di Pesantren Hidayatullah. Sebuah pesantren terbesar di Indonesia. Alhamdulillah. Pengalaman ini membuatkan saya terfikir akan pengaruh media dalam dakwah dimana jika di Malaysia keadaannya mungkin lebih baik. Maksud saya, di Malaysia tiada cabaran seperti Indonesia dimana saluran radio dan televisyennya bebas menyiarkan rancangan-rancangan dari pelbagai agama. Pada saya itu satu cabaran besar buat pendakwah Islam di Indonesia dan melihat kesungguhan sahabat-sahabat baru saya ini, membuatkan hati semakin yakin dengan jalan perjuangan yang dipilih. Allahuakhbar.

Selain itu, kembara ke Makam Wali Allah ini banyak membuka mata kami dalam mencari kebenaran. Sebenarnya wali-wali Allah ini bukanlah satu individu sahaja yang menyampaikan ajaran Islam di Tanah Jawa, tapi sebenarnya sekumpulan anak muda yang dihantar untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat disana. Malah sebenarnya bukan sembilan ini saja bahkan ramai lagi wali-wali Allah yang mungkin kisahnya tidak diceritakan seperti Wali Songo.

"Masih mampu tersenyum walau kelelahan."

Sejujurnya kembara ini punya beribu hikmah yang tak tertuliskan semua. Soal kembara diri dan jiwa. Soal pengabdian diri kepada Allah yang bukan hanya berkisar soal Ibadah, tetapi juga soal kerja-kerja dakwah, membantu mereka yang memerlukan dan sebagainya. Malah sebagai seorang muslimah, saya kira perjuangan seorang wanita tidak hanya perlu dibelakang tabir, tetapi juga ada waktunya kita harus kehadapan dalam menyampaikan kebenaran.

Soal kerjasama berkumpulan, sebenarnya bukan sahaja dalam soal tugasan sahaja walaupun ia sangat perlu sewaktu dalam kembara. Tetapi juga dalam penjagaan kembara rohani secara jamaie seperti solat berjemaah, qiyamullail, tazkirah dan tidak dilupakan bacaan ma'thurat harian sebagai bekal diri dan pasukan.

Alhamdulillah, hingga di hujung kembara, setiap pengalaman dirasai manisnya. Walau sebenarnya tugasan harus disambung di Malaysia, namun penghayatan atas segala tarbiyyah-Nyadiharapkan mampu menjadikan kami ini muslimah-muslimah yang akan menyumbang kepada ummat. InsyaAllah.

Siti Nur Dalila Melatu Samsi
Exco PKPIM
2010/2011

Tuesday, December 07, 2010

Kempen Islam Warnai Hidupku



Mengambil spirit Gagasan Ta'dib Kepemudaan dan Sambutan Jubli Emas 50 tahun PKPIM, Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia telah melancarkan kempen ;

"Islam Warnai Hidupku"

Sebagai Muslim sejati, terumanya aggota gerakan dakwah, setiap tindakan yang dilakukan mestilah berteraskan ajaran Islam.

Fokus kempen ini menekankan aspek SOLAT dan AURAT, dua aspek yang dilihat semakin dipinggirkan dewasa ini.

Semoga kempen ini dapat sama-sama disemangati oleh semua ahli PKPIM dan semua ummat Islam.

HIDUP BIAR BERJASA

Saf Kepimpinan PKPIM Pusat Sesi 2010/2011



Barisan Pimpinan Kanan Ahli Jawatankuasa Kerja Pusat Sesi 2010/2011

Presiden :
Muhammad Faisal Bin Abdul Aziz (KPIP)

Timbalan Presiden :
Akmal Afiq Bin Mohamad (KPIP)

Naib Presiden Antarabangsa :
Ahmad Fahmi Bin Samsudin (KEPITAR)

Naib Presiden Kebangsaan :
Mohd Khairul Ridhuan Adha Bin Akhiar (PPINS)

Naib Presiden HEWI :
Syarifah Sumayyah Binti Syed Malick (PPIWP)

Setiausaha Agung :
Abu Qassim Nor Azmi (PPINS)

Bendahari Kehormat :
Nur Syafafwati Binti Mohd Sahimi (KPIP)

Timbalan HEWI 1 :
Fatin Nur Majdina Binti Nordin (PEMBIMBING)

Timbalan HEWI 2 :
Siti Nur Sakinah Binti Ahmad Budiman (PPIWP)

Penolong Setiausaha 1 :
Siti Nur Dalila Melitulsamsi (KPIJ)

Penolong Setiausaha 2 :
Mohd Shahril Effendi Bin Mohd Yunus (KPIP)



Barisan Ahli Jawatankuasa Kerja Pusat Sesi 2010/2011

1. Dakwah & Tabiyyah :
-Mohamad Fazril Bin Mohd Salleh (KPIP)
-Mohd Arrabe’ Bin Baei (PEPIAS)
-Puteri Raudhah Binti Megat(KPIP)

2. Pendidikan & Penyelidikan :
-Wan Mohamad Wasif Bin Wan Mohamad (PPIWP)
-Ahmad Afif Bin Ahmad Mohtari Yasim (PPIK)

3. Bimbingan Latihan & Pembangunan
-Azizan Bin Ajiji (PERKEPIS)
-Muhamad Zikri Bin Jinal (PPIWP)
- Atiqah Syairah Binti Shaharuddin (PEPIAS)

4. Dokumentasi & Penerbitan
-Mohd Syahiran Bin Muhammad (PPIK)


5. Sektretariat Perhubungan Antarabangsa
-Mohd Shazni Bin Abdullah (PERSIDA)

Sunday, March 29, 2009

JAGA 7 SUNNAH RASULULLAH SWT


JAGA 7 SUNNAH RASULULLAH SWT :-

PERTAMA: tahajud, kerana kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajudnya.
KEDUA: membaca Al-Qur'an sebelum terbit matahari.
KETIGA: jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh.
KEEMPAT: jaga solat dhuha, kerana kunci rezeki terletak pada solat dhuha.
KELIMA: jaga sedekah setiap hari.
KEENAM: jaga wudhu terus menerus kerana Allah menyayangi hamba yang berwudhu.
KETUJUH: amalkan istighfar setiap saat